Tuesday, 1 April 2008

Sejenak Pulang Ke Rumah


Persiapan dadakan atau sama sekali tidak ada persiapan membuat saya mengambil keputusan untuk pulang sejenak. Lagi pula orang tua sama sekali belum tahu kalau saya sudah masuk tempat TOP. Belum ada signal. HP pun belum dikenal. Komunikasi satu-satunya hanya dari Wartel atau Telkom. Itu pun kalau orang tua saya ke Maumere atau ke Geliting. Baru ada Wartel. Selebihnya komunikasi kami hanya melalui kontak batin.
Ikatan orang tua terhadap anak memang begitu kuat. Dalam kondisi apapun, orang tua selalu tahu seperti apa keadaan anaknya. Mereka juga tahu riak-riak yang sedang terjadi di hati anaknya. Betapa pun nakalnya, betapa pun menjengkelkan, betapa pun memprihatinkan, orang tua tetap tidak meninggalkan anaknya. Mereka begitu sayang pada anaknya. Orang tua adalah representan Tuhan yang Maha Pengasih. Tiada habis cinta-Nya. Tiada lelah Dia mendamping, menuntun, mencari yang hilang, dan menerima pertobatan. Merekalah Tuhan bagi saya.
Waktu kecil saya juga nakal. Bukan hanya sekali bapa mengayunkan tangannya dan menampar pantat saya. Kalau bukan dengan tangannya yang kokoh, pasti dengan kayu. Kalau sudah begitu, saya biasanya menangis. Kadang saya lari dari rumah. Bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkaui orang tua. Tapi bapa punya cara sendiri untuk melerai hati saya. Sesudah memarahi saya, dia menghaluskan kembali hati saya yang carut marut. Terakhir kali dia menggendong saya, waktu saya kelas 1 SD. Setelah itu, saya ditempa untuk hidup mandiri.
Bapa dan ibu saya paling berjasa dalam menempa watak seni saya. Bapa sangat suka drama, terutama kisah sengsara Yesus. Seingat saya, bapa pernah menyutradarai pementasan drama kisah sengsara Yesus di Gereja Talibura.[1] Saya rasa bapa hebat. Dia melatih orang-orang biasa, yang tidak berpendidikan, biasanya di kebun, bergaul dengan cangkul dan tanah, menjadi aktor drama yang memukau sekaligus mengharukan. Kisah pementasan itu berakhir dengan tangisan massal.
Memori saya merekam dengan sangat baik, di balik kesuksesan pementasan itu, mama juga berperan besar. Semua kostum merupakan hasil jerih payah tangan terampil mama. Jenggot-jenggotan, pakaian serdadu dari kardus dan kertas minyak, rambut palsu dari ijuk, gambar wajah Yesus di kain putih, tombak dan perisai, bunga karam tempat Yesus minum, semuanya merupakan hasil karya mama. Ini sebuah kerja sama yang apik dan penuh kasih sayang.
Di waktu senggang, mama atau bapa selalu menceritakan dongeng-dongeng menarik. Bawang Merah Bawang Putih, Keong Mas, Sangkurian, Tangkuban Perahu, Candi Roro Jonggrang, Kancil dan Buaya, Biji Kacang Ajaib, merupakan dongeng-dongeng yang menghiasi masa kecil saya. Betapa indahnya mendengar dongeng-dongeng tersebut. Sepertinya dunia ini tersusun begitu indah. Tidak ada yang susah. Tidak ada tangisan. Kalau pun ada penderitaan pasti selalu diakhiri dengan kebahagiaan. Dongeng menciptakan sebuah garis lurus kebahagiaan dalam hati dan pikiran saya.
Hari Jumad adalah hari yang ditunggu-tunggu. Kami baru mempunyai TV pada saat saya kelas IV SD. Itu pun masih TV hitam putih. Listrik belum ada. Sampai sekarang listrik di Waigete[2] masih menyala dari jam enam sore menuju jam enam pagi. Belum dua puluh empat jam. Karena itu, kalau mau nonton TV, kami pakai accu. Serunya hari Jumad, karena mama pasti mengajak kami mendengarkan sandiwara radio, Radio Australia. Ada kisah Tutur Tinular, dengan pelaku-pelaku yang masih saya ingat terus sampai sekarang. Misalnya, Arya Kamandanu (Ini jagoan sekaligus favorit saya), Sakawuni, Ayu Wandira, Ranggalawe. Lucunya, kalau cuaca lagi mendung. Daya tangkap radio kami agak terganggu. Jadi harus pasang kuping rapat-rapat di radio supaya suaranya kedengaran. Mama biasanya mengatur posisi radio seapiknya, tahan posisi, supaya gelombang yang diterima dengan baik itu tidak segera berubah dan bunyinya menjadi kresek....kresek.... Kesal benar kalau ceritanya lagi seru, eh...malah bersambung ke minggu depan. Makanya, hari Jumad adalah hari yang paling ditunggu-tunggu.
Selain sandiwara radio, kami juga dibiasakan mendengarkan berita radio. Mama mengajarkan kami menyimak berita. Sesekali mendengarkan lagu. Sesekali mendengarkan pembacaan puisi. Maklum, mama orangnya puitis. Suka puisi. Saya pernah membacakan puisi karya mama. Dengan bangga saya sebutkan nama mama saya sebagai penulisnya.
Mama paling cerewet kalau saya salah berbahasa Indonesia. Sekalipun hanya perawat, logika alamiah mama begitu teratur. Mama tidak segan-segan membantai logika berpikir saya yang keliru. Tegas. Kritis. Mungkin dari sini saya belajar soal retorika dan seni berorasi. Banyak teman bilang, saya begitu luar biasa dalam soal pemilihan kata. Tapi itu semua keluar begitu saja dari pikiran dan hati saya. Tidak pernah ada yang dibuat-buat atau yang dicatut. Semua alami. Baru sesudah itu, saya menyadari kebiasaan mama membantai logika berpikir saya itu memacu saya untuk berpikir kritis. Mama juga mengilhami perkembangbiakan bahasa saya menjadi lebih sempurna.
Kalau soal tulis menulis, dua-duanya memang sama-sama hebat. Pernah sekali saya membuka diari bapa dan mama. Sembunyi-sembunyi. Mungkin sampai sekarang mereka tidak tahu. Biasanya mama hapal betul letak pakaian di lemari. Sedikit saja berkerut, mama langsung memanggil kami untuk mempertangungjawabkan keusilan kami mengobok-obok pakaian di lemari. Mama juga hapal betul cara kami mengobok-obok pakaian. Model seperti ini tentunya saya, kalau yang ini, pasti adik saya. Saya sendiri heran dari mana mama bisa tahu. Tapi waktu saya lihat diary itu, luput saya dari penglihatan mama.
Diary yang sudah usang di makan usia itu penuh dengan corat coret. Ada tulisan tangan bapa. Ada juga tulisan tangan mama. Semuanya dalam bentuk puisi. Indah berirama. Ternyata dari sini saya dilahirkan. Oleh tulisan-tulisan inilah saya ada. Dan karena kata-kata magis inilah, kami tumbuh menjadi anak-anak yang suka puisi, prosa, artikel. Buah jatuh tidak jauh dari pohon, kecuali di tebing.
Bapa dan mama biasanya sudah bangun tepat pukul lima pagi. Kami juga ikut bangun. Bapa langsung pegang sapu dan membersihkan halaman rumah. Mama langsung ke dapur untuk memasak. Saya menggunakan waktu itu untuk belajar, atau sekedar mengulang pelajaran kemarin. Jam enam, bapa sudah selesai membersihkan pekarangan rumah dan mama mempersiapkan sarapan pagi. Kami sarapan bersama. Kemudian mandi bergiliran. Biasanya saya duluan karena tidak mau terlambat ke sekolah. Kemudian baru bapa dan mama. Kebiasaan itu kami lakukan setiap pagi.
Sore hari, ketika semua sudah bercengkerama kembali, kami biasanya diajak ngobrol bersama. Mama atau bapa mengajak kami ngobrol tentang apa saja. Kadang saling kelakar, dan diakhiri dengan tawa panjang. Malam hari pun demikian. Tapi kalau saya ada PR atau tugas rumah, bapa atau mama mendampingi saya menyelesaikan tugas belajar. Bapa tidak terlalu keras dalam mendampingi belajar saya. Tapi mama, begitu keras. Mistar selalu di samping. Kalau saya tidak berhasil atau salah dalam menyelesaikan tugas, ibu jari saya selalu kena sasaran mistar. Mama mendidik kami untuk tidak malas, tekun, teliti, tidak pernah puas dengan keadaan yang sekarang.
Dalam memilih dan menentukan cita-cita, bapa dan mama tidak pernah memaksakan kehendak mereka. Mama pernah menganjurkan saya untuk menjadi dokter. Tetapi itu semua diserahkan sepenuhnya pada saya. Saya diberi kebebasan menentukan sendiri pilihan saya. Nah, waktu saya mengutarakan akan masuk seminari dan ingin menjadi pastor, keduanya begitu mendukung saya. “Kalau memang itu keinginanmu, kejarlah cita-citamu.” Saya begitu serius dengan pilihan saya itu. Sendiri mengisi formulir. Sendiri menghadap pastor paroki. Dan sendiri pula pergi testing. Bapa dan mama tidak pernah repot dengan cita-cita saya itu. Sekalipun saya anak laki-laki tunggal, penerus keturunan dan ahli waris menurut tradisi setempat, mereka tetap membiarkan saya ke seminari, setelah saya dinyatakan lulus testing.
Mama yang mengantar saya ke seminari. Bapa tinggal. Jaga rumah. Uang sekolah saya sudah dilunasi setahun. Mereka begitu percaya dengan saya. Saya tidak mungkin lari. Seperti kebiasaan anak yang baru masuk. Rindu akan rumah dan orang tua. Saya tidak. Malah ketika mama pamit untuk pulang. Saya tidak merasa kehilangan apa-apa. Tidak merasa sedih. Karena di sinilah cita-cita dan tempat saya.
Tetapi di satu masa saya pernah sangat merindukan kehadiran bapa dan mama. Malah membenci bapa dan mama. Karena saya cemburu dengan teman-teman yang lain. Selama kurang lebih enam tahun, hampir tidak pernah saya dikunjungi. Diberi kiriman “lombok”[3] atau “ikan balik tomat” atau “lombok ikan” misalnya. Sementara teman-teman lain mengalami hal yang berbeda dari saya. Hampir tiap minggu atau bulan, selalu saja ada waktu orang tua mengunjungi mereka. Selalu saja dapat kiriman. Mereka pun selalu bisa jajan dengan sesukanya. Karena hampir setiap kali kunjungan orang tua itu, saku mereka penuh uang dan ole-ole. Sementara saya, uang saku hanya Rp. 50.000 per tahun. Tidak ada tambahan lagi. Lima puluh ribu tok. Jadi saya harus hidup sederhana, sungguh-sungguh hemat. Hidup apa adanya.
Kadang saya harus bergantung dari kebaikan hati teman-teman. Kalau diajak ke rumah om, atau tanta, atau orang tua mereka, saya begitu senang. Saya tidak perlu jajan. Ajakan mereka membuat saya sesekali bisa makan enak. Kadang saya ikut nimbrung makan “kiriman” teman. Itu semata-mata karena saya punya jasa tertentu. Bantu menyelesaikan PR, misalnya. Merangkaikan kata-kata puitis untuk teman “kores”-nya. Atau menjadi tempat sampah untuk segala suka dan duka mereka. Memang tidak baik menghitung jasa sendiri. Tapi justru itulah yang saya dapat ketika saya berbaik hati dengan sesama teman tanpa pamrih.
Malu juga bergantung pada kebaikan teman. Kebetulan waktu itu majalah Mingguan DIAN punya kolom khusus untuk Opini Remaja. Berbekal bakat dan kemampuan menulis, saya coba mengirimkan artikel secara rutin ke DIAN. Dalam menulis saya mungkin jagonya. Selalu menjadi juara I pada lomba menulis. Hal ini ditunjang dengan hobi saya melahap buku-buku bacaan, apapun isi dan materinya. Saya mau tahu tentang segala hal. Karya orisinil saya yang diterbitkan pertama kali bertemakan “Kartini”. Saya tulis menyongsong Hari Kartini. Begitu senangnya saya karena karya saya itu diterbitkan.Ternyata kebanggan itu bukan saja menjadi kebanggaan saya. Romo perfek, teman-teman kelas, teman-teman seangkatan pun ikut berbangga. Saya menjadi perintis siswa menulis di koran. Artikel saya selalu saja dimuat. Terhitung sejak pertama diterbitkan, ada sekitar delapan sampai sepuluh artikel.
Suatu waktu, saya dipanggil Romo Perfek di kamarnya. Kalau dipanggil berarti ada sesuatu. Dan sesuatu itu umumnya soal pelanggaran tertentu. Ini sudah menjadi pendapat umum. Sejenak saya coba koreksi diri. Nihil. Romo tidak punya alasan untuk memanggil saya. Tidak ada pelanggaran berat yang saya buat sepanjang pekan ini. Apa ya!
Pintu bapa asrama saya ketuk. “Masuk!” Saya melangkah ragu-ragu. Selain Romo, menanti pula seorang bapak. Saya tidak tahu kalau itu wartawan DIAN.[4] “Duduk!”. Saya duduk dengan wajah penuh tanda tanya. “Ini Yopi Susanto”. Bapak itu angguk-angguk, tersenyum, lalu mengulurkan tangan, memperkenalkan diri. “Saya dari DIAN, mau memberikan sedikit ole-ole buat Yopi”, kata bapak itu. Saya sudah lupa namanya. “Artikel Yopi sudah banyak yang dimuat di DIAN. Dan semua artikel itu ada hitungannya. Ada royaltinya. Semuanya ada di sini. Hitung sendiri”, lanjut bapak tadi. Hati saya berbunga-bunga, bangga, senang, tak karuan. Ragu-ragu saya melihat ke arah bapa asrama saya. Dia mengangguk tersenyum. Kemudian saya hitung-hitung. Jumlahnya cukup banyak untuk standar dulu. Sekitar seratus lima puluhan lebih. Kemudian bapak itu pamit dan meminta saya untuk rajin menulis.
Aturan seminari, kami tidak boleh pegang uang saku sendiri. berlaku sampai kelas III SMA atau kelas enam. Jadi uang saku tersebut langsung saya berikan pada Romo. Rupanya Romo mengerti. Mungkin untuk pertama kalinya Romo melanggar sendiri aturan yang dibuatnya. “Kamu mau pegang berapa?” Saya ragu. Apa ini jebakan atau tulus. Sambil tersenyum, Romo mengulangi lagi perkataannya. “Kamu mau pegang berapa?” Saya lihat ke arah Romo. Masih juga tersenyum. Kemudian Romo melanjutkan. “Ini serius!”. Cepat-cepat saya bilang, “Lima puluh saja, Romo. Untuk kebutuhan harian saya!”
Kemarin mungkin saya membenci keluarga saya. Bapa mama saya. Menyesal dilahirkan di tengah keluarga seperti ini. Tapi hari itu, saya betul bahagia dengan diri saya. Hasil jerih payah saya. Dan keluarga saya. Kenapa! Secara tidak langsung mereka sudah memberikan saya kesempatan untuk mandiri dan membantu meringankan beban mereka. Mereka sangat percaya bahwa saya bisa membantu diri saya sendiri. Dan saya temukan apa yang ada pada diri saya. Apa yang sudah ditanam sejak dari rahim ibu. Apa yang diajarkan bapa dan mama saya. Yaitu kemampuan menulis. Merekalah guru pertama yang memberikan kata-kata pada pikiran, mulut, dan tangan saya. Saya terharu sekaligus merasa bersalah.
Sesungguhnya saya menyadari, begitu beruntungnya saya dilahirkan dalam keluarga seperti ini. Saya bangga dengan bapa dan mama saya. Mereka sudah melunaskan hutang yang Tuhan titipkan pada mereka dengan begitu indah. Mereka menyusun hati dan pikiran saya dengan rasa sayang, damai, kasih, ampunan. Menuliskan sejarah kehidupan saya dengan begitu rapi, teratur, dan tak tergantikan. Tidak ada goresan yang menyakitkan. Tidak ada celaan. Tidak ada kata kasar. Tidak ada gurat duka. Semua indah dan membahagiakan. Terima kasih bapa dan mama.
***
Saya tiba di rumah sore hari menjelang malam. Setelah mandi dan makan, langsung saya bicara dengan kedua orang tua saya. Tempat TOP sudah memanggil saya. Bapa dan mama tidak banyak komentar. Mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka sendiri sudah merelakan saya menjadi milik orang banyak, milik Tuhan. Karena itu, ke mana Tuhan membawa saya, ke situlah mereka mendukung dan mendampingi saya.
“Seminggu lagi kamu tinggal di sini. Setelah itu kamu ke tempat TOP” pinta mama. Saya tidak langsung mengiyakan. “Tapi tempat TOP sudah memaksa saya untuk hadir di sana”. “Kamu itu selalu begitu. Tidak hilang disiplin kamu. Tidak hilang juga sifat kamu yang tidak mampu menolak permintaan orang lain” kata mama lagi. Waktu berjalan. Saya akhirnya mengalah. Seminggu lagi saya berlibur. Toh saya akan pergi untuk jangka waktu dua tahun. Baiklah kesempatan ini saya gunakan untuk melepaskan rindu bersama kedua orang tua saya.
“Kamu mau bawa uang berapa?” tanya bapa. “Tidak usah! Saya ada uang sendiri. Di tempat TOP semua kebutuhan sudah tersedia. Tidak usah banyak repot!” Malu juga lah...sudah besar masih juga ngemis uang sama orang tua. Seharusnya di usia seperti ini saya sudah produktif. Tapi mau apa. Jadi calon imam dan imam berarti berani hidup miskin. Tidak punya apa-apa. Hanya berharap dari kebaikan umat. Tentunya juga Tuhan. “Jadi kamu tidak butuh uang?” tanya bapa lagi. “I-ya!”.
Saya benar-benar menikmati masa-masa liburan di rumah. Tapi tidak lagi seperti dulu. Saya sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa dengan otonomi berpikir sendiri. Makan olahraga, tidur, nonton, pesiar ke Wairterang, pantai yang indah, atau ke Nangablo, juga sama indahnya, atau mengunjungi keluarga di sekitar.[5] Makan ubi bakar, daun pepaya yang diasap, dan ikan pepes yang dikubur dalam tanah, di atas bara api menyala. Lama kelamaan bosan juga. Sudah terbiasa dengan selalu ada aktivitas kemudian berhenti total buat pikiran menjadi buntu, dan hati menjadi keruh. Karena itu, sesekali saya ke Maumere. Kunjungi teman-teman. Malam mingguan di Pelabuhan, sekalipun cuma jadi obat nyamuk buat teman-teman yang lagi pacaran.
Rencana semula hanya seminggu molor menjadi dua minggu. Kali ini tidak bisa ditunda lagi. Saya harus masuk tempat TOP dan mulai dengan pengabdian dan tugas yang baru.
Sehari sebelum saya berangkat, kami makan menu spesial buatan mama. Mama potong ayam. Seperti kebiasaan di keluarga kami kalau ada peristiwa besar atau istimewa, kami biasanya potong ayam. Sederhana dan seadanya. Yang penting kebersamaan dan ucapan syukurnya. Ini juga satu bentuk dukungan keluarga atas diri saya. Senang rasanya dibuat acara seperti ini. Teringat akan masa dulu, waktu saya ulang tahun. Ada ayam dan ada nasi kuning. Teman-teman di samping, dan bapa mama mengapiti saya. Semua nampak bahagia, seperti pada malam ini.
Ada yang mungkin berpikir, pergi TOP saja potong ayam, bagaimana dengan acara wisuda, sambut baru, tahbisan. Orang Maumere kan suka pesta dan “tukang” buat pesta besar.[6] Sejujur-jujurnya kami tidak pernah dipestakan. Acara sambut baru alias komuni pertama saya juga berlangsung seadanya saja. Teman-teman lain pada buat pesta besar-besar. Makan ongkos. Kemudian pikul utang di hari esoknya. Kalau saya, tidak ada undangan. Tidak ada nari menari. Tidak ada pemotongan sapi. Hanya syukuran kecil-kecilan bersama keluarga dekat saja. Kami sudah terbiasa dengan hidup sederhana, apa adanya, tidak boros, juga tidak egois.
Setelah makan, saya siapkan segala sesuatu yang perlu. Buku-buku yang perlu saya bawa dan sekiranya akan saya gunakan untuk mengajar nanti. Pakaian seadanya. Sabun, odol, sikat gigi, alat cukur, dan yang paling penting: jubah dan brevir! Satu tas dan satu dos. Enteng. Saya biasanya tidak mau repot-repot. Simpel saja. Hidup sudah susah, jangan buat beban baru. Praktis. Dan yang perlu saja.
Besoknya, saya pamitan. Meninggalkan lagi rumah yang penuh dengan kenangan masa kecil itu. Meninggalkan busur yang senantiasa melesatkan saya. Meninggalkan Tuhan yang saya puja dan sanjung selalu. Meninggalkan rahim saya. Sesungguhnya hanya rumah yang saya tinggalkan. Mereka tetap hadir selalu di hati saya. Ke mana pun saya pergi dan berada.(*)
Permenunganku:
“Keluarga adalah dunia pertamaku dan dunia pertamamu. Keluarga itu rasa syukur dan anugerah terbesar. Ke mana pun anda pergi dan berada, keluarga tidak mungkin akan bisa lepas dari dirimu. Semuanya adalah bingkisan keluarga. Sampai jiwamu, watakmu, kata-katamu, mimikmu, adalah keluargamu. Apa pun yang terjadi dalam keluargamu, anda mesti selalu punya waktu untuk memaafkannya. Karena dengan begitu, anda tidak akan dihantui oleh rasa luka yang terus menyayat. Keluarga adalah sumber kegembiraan dalam hidupmu. Dia inspirasi sejati. Membenci keluargamu berarti merusak dirimu sendiri. Memaafkan keluargamu adalah rahmat terbesar. Sekali-kali jangan membenci bapa dan mamamu. Sebab anda tidak akan lagi dan tidak akan pernah mempunyai bapa dan mama kelak, di surga atau pun di neraka, kalau anda membenci bapa dan mamamu. Percayalah, mereka adalah orang-orang yang paling menyayangi kamu, sebagaimana adanya kamu.”

[1] Sekitar 30 kilometer dari Kota Maumere, Flores, NTT
[2] Dulunya perwakilan kecamatan Talibura. Sekarang sudah menjadi kecamatan sendiri. Sekitar 23 kilometer dari Kota Maumere, Flores, NTT
[3] Kebiasaan orang Flores, sambal selalu disebut dengan lombok, apapun bentuk olahannya
[4] Sebuah Surat Kabar Mingguan yang beredar di hampir seluruh daratan Flobamora
[5] Kabupaten Sikka terkenal memiliki garis pantai yang indah. Selain pantai pasir putih yang masih sangat asli, panorama taman laut yang eksotis, juga indah karena persetubuhannya yang alamiah dengan barisan nyiur melambai. Banyak turis yang berdatangan ke Kota Maumere dan sekitarnya hanya untuk menikmati keindahan pantai dan lautnya.
[6] Rata-rata orang Flores suka pesta. Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup, semuanya dipestakan. Secara sosiologis kultural, pesta merupakan moment persaudaraan. Semua keluarga besar, sahabat dan kenalan berkumpul dan merayakan moment bersejarah itu. Pesta diidentikkan juga dengan korban binatang. Tidak jarang ada yang sampai tiga empat binatang korban. Memang agak berbau pemborosan. Tetapi mau bilang apa, pesta sudah menjadi tradisi. Budaya yang susah diubah.

Kembali Ke Mataloko


Untuk kedua kalinya saya harus tinggal di Mataloko. Kalau mau dihitung hari per hari, tidak tahu berapa lamanya. Masa perkenalan pertama saya dengan Matalako dimulai saat saya diterima menjadi siswa Seminari St. Yoh. Berkhmans di Mataloko.[1] Awalnya memang berat. Dingin. Sampai bibir dan kulit pada pecah-pecah. Tergerak hati ingin pulang ke Maumere.[2] Sekalipun panas, kulit dan bibir saya tidak pecah-pecah seperti ini. Namun apa daya. Jarak Maumere – Bajawa terlampau jauh. Sudah begitu jalannya pun rusak parah. Kalau tidak hati-hati, sedikit lengah, jurang Ende – Maumere sudah menanti ganas.
Sekarang saya bukan lagi seorang siswa. Surat Keputusan (SK) menunjukkan penempatan TOP[3] saya di Seminari Mataloko. Senang juga kembali lagi ke almamater dan mengabdi di sana. Satu kesempatan diberikan. Mengucapkan terima kasih kepada ibu yang sudah membesarkan saya selama kurang lebih enam tahun.
Kata teman-teman saya, “Kamu itu sama saja pindah tempat tidur. Tidak ada bedanya seminari tinggi dan seminari kecil.”[4] Ada juga yang mengatakan dengan nada mengejek, “Selamat weh...jadi guru buat siswa seminari. Saya tidak bisa mengelak dari komentar-komentar ini. Setengahnya saya setuju. Kemudian hanya bisa menyimpan semua itu dalam hati. Sama seperti Bunda Maria yang menyimpan segala sesuatunya dalam hati. Pasrah. Saya yakin bahwa SK penempatan itu merupakan perpanjangan tangan Tuhan dari rencana yang sudah Ia tulis buat saya. Sekarang Ia sedang mewujudkan rencana-Nya itu dalam diri saya.
Tidak ada yang perlu dipersiapkan secara istimewa. Hanya pengabdianlah yang sebenarnya dibutuhkan. Makanya, saya lebih memilih jalan-jalan ke rumah teman-teman, ketimbang mempersiapkan TOP saya. Saya ke Ende, ke rumah seorang teman dekat. Beberapa hari di sana, saya lanjutkan perjalanan ke Bajawa. Salah satu teman baik saya ulang tahun. Kami seangkatan memang sudah sepakat akan merayakan bersama-sama sebelum kami benar-benar berpisah ke tempat TOP masing-masing.
Tiga hari di sana, tahu-tahu saya “diambil paksa” oleh Romo Praeses[5] Seminari Mataloko dari rumah teman saya itu. Benar-benar tanpa persiapan. Baju dan celana seadanya. Handuk masih basah karena memang musim dingin. Tidak ada buku-buku. Tidak ada jubah. Saya diberikan sebuah kunci kamar. Saya pikir kamar sudah diatur rapih. Eh, ternyata masih berantakan. Cuma ada tempat tidur kosong tanpa kasur dan sebuah lemari.
Pas benar. Ada pertemuan guru dan pembina. Istilah guru dan pembina ini agak unik. Dari dulu memang sudah dibedakan. Kalau guru, berarti yang dimaksudkan adalah guru-guru awam. Dan pembina berarti imam, frater, suster yang ada dalam komunitas kecil Unit C[6], dan menjadi pendamping para calon imam setiap harinya. Hari itu saya bertemu kembali dengan mantan pembina, pendamping, dan guru-guru saya dulu. Memang tidak semuanya. Ada juga wajah-wajah asing yang mengisi bangku guru-guru. Ini sebuah reuni tampaknya. Saya disambut dengan tepuk tangan. Tersanjung. Benar-benar tersanjung. Karena tidak menyangka tepukan tangan itu diberikan pada saya. Oleh mereka-mereka yang nota bene pernah menjadi guru dan pembina saya. Sebuah kehormatan istimewa yang tidak pernah saya lupakan.
Malam hari saya makan di unit C. Saya teringat waktu masih menjadi siswa. Unit C memang merupakan kerinduan semua siswa. Dari sana kami melihat ada tumpukan roti, keju, buah-buahan, daging, susu, sayuran segar. Jauh berbeda dengan menu makan yang menjadi bagian kami waktu itu. Nasi jagung atau jagung nasi, karena tidak bisa lagi dibedakan antara nasi dan jagung, saking banyaknya jagung ketimbang nasi. Sayurnya “kol berenang”. Sudah kuah lebih banyak dari sayurnya, tidak ada rasa lagi! Kadang kami temukan ulat di sana. Sesekali kami selingi menu makan kami dengan buah alpukat dicampur pisang. Alpukat kami “curi” (seminari koq nyolong!) dari kebun. Atau kalau ada minyak ikan, wah...lezat benar! Syukur-syukur kalau teman-teman dapat kiriman lombok dan ikan. Cukup baunya saja sudah membuat selera makan meningkat sampai dua piring. Itu berarti kami siap-siap “bon” alias minta nasi di meja makan tetangga.
Pernah sekali saya punya kesempatan makan di Unit C. Tapi harus didahului dengan sebuah “tragedi”. Saya juga sudah lupa kelas berapa waktu itu. Kalau tidak salah, kelas dua SMP. Jam makan malam sudah berbunyi. Biasanya kalau saat makan semua orang pada senang. Lain dengan siswa seminari. Ada beban tersendiri. Terpaksa makan. Semua berarak menuju kamar makan. Setelah doa, lalu mulai makan. Kamar makan waktu itu ramai sekali, seperti pasar. Semua berebutan mau cerita. Ini makan atau ngobrol (?) Tapi begitulah caranya kami memupuk kebersamaan dan mengimbangi menu makan yang tidak membangkitkan selera itu.
Tiba-tiba suasana di ruangan makan menjadi senyap. Tahulah apa yang sedang terjadi. Pasti ada Romo di sebuah sudut. Selang beberapa detik, bunyi lonceng kecil disusul suara Romo memberikan pengarahan dan pengumuman. Bergema di semua sudut kamar makan. Di pertengahan pengumuman itu, tanpa sengaja saya mencecap. Nasi ada yang tersangkut di sela-sela gigi saya. Celakanya, Romo mendengar suara cecapan saya. “Siapa itu! Jujur dan angkat tangan!” Hati saya mulai kebat-kebit. Sesuatu pasti akan terjadi atas diri saya. Saya dipanggil ke tengah ruangan. “Apa maksud kamu?” Saya diam saja. “Kamu mau melawan saya?”. Kali ini saya bersuara karena saya merasa suasana sudah tidak menguntungkan saya. “Ti...” Baru saja saya mau mempertanggungjawabkan cecapan saya itu, sebuah tamparan dengan tangan kiri mendarat pas di muka saya. Pedis rasanya. Mungkin juga merah meramu. “Kembali!” kata Romo.
Saya duduk. Tidak ada niat lagi untuk melanjutkan makan. Saya menangis dalam hati tanpa ada setetes air mata pun mengalir. Malu. Sepertinya saya ditelanjangi. Dan saya coba untuk menutupi ketelanjangan saya itu dengan tidak menangis. Tetap tegar dalam tengkurap. “Ini sebagai peringatan bagi siapa saja yang tidak mau mendengarkan saya!” lanjut Romo. Saya tunduk, tahu bahwa semua orang lagi memperhatikan saya.
Selesai Romo bicara, kami diajak berdiri dan berdoa. Makan telah selesai. Semua bergegas menuju kelas untuk belajar. Yang bertugas mencuci piring, lap meja, dan sapu kamar makan dengan segera menuntaskan tugas-tugas kecil mereka itu. Waktu itu saya lagi tidak ada tugas. Karena itu, saya mau langsung ke kamar makan. Tahu-tahunya salah seorang adik kelas saya menyampaikan pesan Romo supaya saya segera menghadap beliau. “Apa lagi? Belum puas juga?”
Saya segera menghadap Romo. “Kenapa kamu tadi?” tanya Romo, kali ini dengan suara yang sudah agak reda. Saya menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. “Kamu dengar pengumuman Romo?” Kemudian saya menjelaskan isi ringkas pengumuman Romo. “Kamu sudah makan?” Saya mengangguk.“Mari ikut saya”, ajak Romo. Kemudian Romo minta maaf atas kesalahannya. Tapi tamparan dan rasa malu tadi tidak bisa kembali dengan sendirinya bersamaan dengan permintaan maaf Romo. Saya diajak ke kamar makan Unit C. “Kamu temani Romo makan.” Blessing in this guest. Saya memang lagi lapar. Tuhan memberkati. Setelah penderitaan, Dia memberikan saya kesukaan baru dan istimewa. Ayam goreng, sayur labu jepang, pisang, dan susu. Empat sehat lima sempurna sekaligus aksi “balas dendam”.
***
Makan malam selesai, saya diajak doa malam bersama. Ini kebiasaan orang biara. Setelah makan atau sesudah rekreasi ada doa malam bersama. Kalau tidak diambil dari “brevir”[7], berarti dari ibadat malam biasa. Kadang-kadang juga ibadat sabda dengan penekanan pada permenungan tertentu. Saya tidak sabaran mengikuti ibadat malam. Kata dan ajakan “ibadat malam” mengingatkan saya pada kapel seminari tercinta. Dengan serta merta saya begitu merindukan bau khas dan suasana kapel.
Dilihat dari bentuknya, kapel seminari itu khas artistikal Eropa. Gaya gotik dengan ruang-ruang misa pribadi, loteng menjulang memberi makna Tuhan yang ada di atas di ketinggian yang maha kuasa, dan lampu Allah yang selalu berkelap kelip. Selain suasananya yang agung, ada dua tempat favorit di kapel itu yang membuat saya terus menerus tidak merasa jenuh berkunjung ke situ. Secara pribadi maksudnya, dan terkesan “sembunyi-sembunyi”. Takut dicap teman-teman sebagai “tabernakel berjalan” atau “beato”. Kami selalu memberikan stempel-stempel seperti itu kepada teman-teman yang rajin berdoa dengan sikap doa yang betul-betul religius. Gestikulasi dan oratorialnya seolah-olah seperti seorang “beato”, kudus yang patut ditertawai, kudus yang dilecehkan, dan “tabernakel berjalan”, karena nampak begitu sakral dan tidak bisa digangu. Dua tempat itu, ialah tabernakel dengan patung Hati Kudus Yesus yang besarnya menyerupai manusia, dan organ di samping soundsystem.
Waktu-waktu luang saya selalu sembunyi-sembunyi datang ke kapela untuk melatih keterampilan organis dan pianis saya. Tidak semua orang bisa menggunakan organ tersebut. Hanya mereka yang terpilih menjadi organis yang bisa menggunakannya. Saya termasuk organis. Tapi dibandingkan teman-teman, kemampuan saya tidak seberapa. Piano dan organ hanya sebuah pelarian saya, lebih tepat penyaluran dari rasa seni saya yang menggebu-gebu. Biasanya saya bermain tanpa irama, ketukan, nada, lagu yang jelas. Tergantung suasana hati dan ke mana jari jemari saya itu melentik. Ada kala dengan tekanan dan volume yang keras, kadang-kadang mengalir, cuma satu dua nada, cuma akord mayor, lembut mendayu-dayu, sampai menangis-nangis. Beruntung bahwa tidak pernah ada yang tahu kelakukan saya itu. Kalau tahu, saya bisa dibilang gila.
Saya juga datang ke kapela untuk berdoa, bermeditasi, atau hanya sekedar duduk di depan tabernakel dan patung hati kudus Yesus. Kedekatan saya itu ada ceritanya. Begini. Saya dilahirkan dari keluarga yang disiplin dan punya pengalaman istimewa dengan Tuhan. Ini soal kedisiplinan. Mengenang masa-masa SD, saya tergolong anak yang tidak mau teman-teman lain datang lebih dulu dari saya. Saya harus menjadi yang pertama ke sekolah. Sekalipun sekolah masih sepi, pintu kelas belum dibuka, dan lonceng peringatan masuk sekolah belum dibunyikan. Sedikit saja terlambat, atau sudah keduluan siswa lain, saya merasa “kegagalan” besar dalam hidup saya untuk hari itu. Saya juga dididik untuk selalu jujur, hidup apa adanya, suka damai, dan penurut.
Lain lagi cerita soal kedekatan saya dengan Tuhan. Dua hari lagi mau ujian kenaikan kelas, saya masih terbaring di tempat tidur karena demam tinggi. Waktu itu saya berontak. Mama saya, sekalipun perawat tidak bisa menyembuhkan saya dengan cepat. Obat dan suntikan sudah saya terima, tetapi demam belum juga reda, dan pusing di kepala saya semakin menjadi-jadi. Saya tidak mau ikut ujian susulan. Saya tidak mau gagal dalam sekolah. Saya tidak mau tahan kelas. Pantang bagi saya untuk “gagal” atau “tahan kelas”. Karena itu, saya berjuang untuk sembuh tapi tetap tidak bisa.
Melihat kegundahan hati saya, mama menganjurkan saya berdoa di patung keluarga kudus. Saya bangkit dari tidur dan berlutut di depan patung keluarga kudus. Saya pasang lilin sendiri. Tangan saya gemetaran. Gigi gemeletuk. Tapi saya sudah bertekad untuk berdoa mohon kesembuhan dari sakit dan bisa ikut ujian secara normal. Satu demi satu kata-kata saya luncurkan. Dengan polos saya minta pada Yesus agar menyembuhkan saya. Setelah itu, saya kembali ke tempat tidur. Hati saya menjadi begitu tenang. Damai. Pasrah. Saya tertidur begitu pulas. Tidak seperti hari-hari kemarin. Susah tidur karena memang panas tinggi dan kepala pusing. Suhu tubuh saya berangsur-angsur turun. Keringat membasahi tubuh saya.
Tepat jam enam sore, saat sayup-sayup terdengar lonceng gereja berbunyi tanda angelus dimulai, saya terbangun. Dan ajaib...saya sembuh. Suhu tubuh saya normal. Kepala saya pun tidak lagi pusing. Langsung saya doa angelus dan mengucap syukur pada Tuhan.
Peristiwa ini membuat saya begitu mencintai Yesus. Dia menjadi sahabat di masa kecil saya dan terus menjadi sahabat saya, ke mana saja saya pergi dan berada.
Terulang kembali. Kali ini terjadi di seminari. Cuma ceritanya berbeda. Pola kedisiplinan saya, tidak kompromi, taat, rajin yang sudah terbentuk dalam dirinya saya itu, terus saya bawa ke seminari. Tidak ada kesulitan sedikit pun mengadaptasikan diri dengan pola pendidikan seminari. Saya merasa seminari seperti rumah saya sendiri. Tapi sikap saya itu justru tidak diterima oleh kebanyakan siswa. Barangkali juga dilatarbelakangi oleh kecemburuan sosial. Saya menjadi siswa yang cukup menonjol dengan kecerdasan, bakat seni saya, kedisiplinan, ketaatan, tata krama saya. Para guru dan pembina pun memberikan perhatian plus buat saya. Ini barangkali pemicunya. Saya merasa dipecundangi teman-teman, dijauhi bahkan dicap sebagai “spion” alias “tukang lapor” alias “penjilat” alias “cari muka”. Saya benar-benar tidak mengerti dengan sikap teman-teman. Memang tidak semua, tetapi begitu dominan. Perasaan hati saya benar-benar diinjak-injak. Saya merasa begitu dilecehkan dan tidak ada artinya sama sekali. Terbuang dan terhempas. Dan perasaan itu semakin berkecamuk, menghujam perasaan hati saya dan tumpah ruah menjadi sebuah tangisan dan penderitaan.
Ke mana akan saya labuhkan kegundahan hati saya itu? Bersama tuntunan kaki melangkah, saya dibawa oleh perasaan itu menuju kapela. Di situ, untuk pertama kalinya saya menangis sebagai seorang siswa seminari. Menangis, kenapa teman-teman memperlakukan saya begitu kejam! Menangis, kenapa sesuatu yang sebenarnya baik kok dianggap salah di mata teman-teman. Menangis, kenapa harus saya? Di hati kecil, sama sekali saya tidak menaruh dendam, benci, marah terhadap teman-teman saya itu. Malah saya berdoa mohon agar mereka kembali lagi menjadi teman baik saya. Mohon agar “kesalahan” saya diampuni. Mohon agar “kesalahan” teman-teman saya diampuni. Dan luar biasa, saya merasakan sebuah “kesunyian yang membahagiakan”, sebuah kedalaman perasaan yang sedemikian dekatnya dengan Sang Tuhan itu. Waktu itu, seolah-olah Tuhan mengangkat tangisan saya. Dia menguliti kedukaan saya dan menggantikan sebuah perasaan yang sedemikian damai, tenang, pasrah, bahagia. Dia seolah-olah memeluk saya, memegang tangan saya dan mengajak saya berada dalam kerajaan-Nya. Ini mungkin perasaan yang sama, seperti yang dirasakan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes di Kemah Tabor. Saya bahkan bisa mendengarkan suara-Nya berkata pada saya, “Tenanglah, Aku tetap akan menyertaimu. Sekarang bangkit berdirilah, dan kembalilah ke teman-temanmu!”
Serentak saya sadar. Melamun atau tertidur, saya sendiri tidak tahu. Sedemikian cepat dan tanpa saya sadari. Cuma saya masih merasakan bahwa Tuhan itu ada dan selalu mencintai saya. Kemudian saya keluar kapela dengan sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Sejak saat itu, saya kembali berada dalam kegembiraan teman-teman dan adik-adik kelas saya.
Peristiwa itu terus mengajak saya untuk senantiasa kembali ke kapela. Berlutut di depan tabernakel dan berdoa di hadapan Hati Kudus Yesus. Dalam segala situasi, gembira dan duka, saya selalu berpulang pada Yesus.
Satu cerita lagi. Kisah klasik yang selalu terulang dari generasi ke generasi, yang menarik, lucu, sekaligus memacu adrenalin adalah kisah SEMAT dan KARMAT.[8] Setiap generasi pasti punya kekhasannya dalam hubungan cinta monyet itu. Mungkin sudah diatur dari sononya, tidak tahu dari mana, siswa seminari itu pacaran dengan siswi SMP Kartini Mataloko. Ada yang terus langgeng sampai ke jenjang perkawinan suci. Seperti saya! (he...he...he...!).
Perkenalan saya dengan seorang siswi SMP Kartini dimulai dengan kedekatan saya dengan seorang adik kelas. Dia mengatakan bahwa ada kakak saya yang selevel dengan saya di Kartini. Kalau “kae” mau, “kores” saja dia. Cek punya cek, ternyata kakak adik kelas saya di Kartini itu memang jadi bintang di Seminari. Waktu itu, masih ada juga “teman dekatnya” di Seminari. Kakak kelas saya pula. Saya surut. Masak saya harus bersaing dengan kakak kelas saya. Dekat pula dengan saya. Biasa main badminton dan kerubuti “Konguan” bersama-sama. Tapi adik kelas saya itu terus desak. “Kae, kores saja dia, bilang saya yang suruh!” Tapi itu tidak boleh terjadi.
Satu langkah maju. Adik kelas saya itu titip “salam” buat kakaknya sendiri mengatasnamai saya. Katanya, saya mau kenalan dekat dengannya. “Salam” saya disambut dengan “salam” balasan. Saya heran, kok bisa-bisanya dia balas “salam” itu. Padahal dia masih punya hubungan dekat dengan kakak kelas saya itu. Tak terbendung. Gosip beredar di kalangan seminari dan kartini bahwa kami sudah jadian. Semua pada bertanya-tanya kebenaran gosip itu. Seperti Cek and Ricek. Saya menampik. Saya bilang ini ulah adik kelas saya itu. Tapi gosip tetap tak terbendung. Saya tidak berdaya.
Dalam sebuah kesempatan makan “kue” bareng, kakak kelas saya itu menanyakan kebenaran hubungan saya. Mati saya! Bisa-bisa supply kue dihentikan. Karena memang kami bergantung dari kiriman kue kakak kelas saya itu. Orangnya “tajir” bo![9] Saya bilang, itu tidak benar. Hanya isapan jempol. Gosip murahan. Tapi kemudian dia bilang. “Kalau kamu mau sama dia, “kores” saja. Saya kasih ke kamu!” “Ha...ha...!”
Saya adakan pendekatan lebih jauh. Saya intip dia, mau lihat mukanya seperti apa. Itu persoalan gengsi juga. Dapat yang “parah” bisa-bisa saya kena olok habis-habisan. Biar begitu, anak seminari juga pandai menilai mana cewek cakep dan mana yang “parahiyangan” alias re’e.[10] Habis misa saya cepat-cepat ambil ember. Pura-pura siram bunga di samping jalan keluar Gereja paroki Roh Kudus Mataloko. Siswi Kartini misa pagi di situ. Dan kami biasanya saling intip pada saat itu.
Salah seorang teman saya memberitahukan bahwa yang namanya “itu” sedang jalan dengan “itu”. Dia pakai jaket “itu” dan pita rambut “itu”. Saya perhatikan dengan saksama. Cantik juga orangnya. Tidak rugi. Waktu saya perhatikan dia, tanpa sengaja dia juga lihat ke arah saya. Wuah...dag dig dug jantung saya. Malu, ketahuan intip. Dia lantas tersenyum. Ehm...manis.
Sepanjang pelajaran hati saya tidak tenang. Mengenang wajahnya tadi. “Sedang apa dia ya?” Memang benar-benar saya tidak kosentrasi. Tugas matematika saya biarkan saja. Biasanya saya tertib. Sehabis pelajaran, kalau masih ada waktu tersisa, saya pasti langsung mengerjakan tugas matematika. Tapi pikiran dan hati saya lagi tidak mood. Diganggu terus menerus oleh perasaan yang sudah tertambat pada si “dia” itu.
Jam istirahat kedua biasanya lebih lama. Saya cari adik kelas saya, yang kakaknya digosipkan bersama saya itu. Baik teman-teman maupun adik-adik kelas pada komentar kalau saya dekat dengan adik kelas itu. Katanya, “eja o...!” alias “adik ipar o!”. Saya bilang ke dia, saya mau tulis surat buat kakak kamu. Dia bilang tulis saja, nanti saya yang antar. Ini adik kelas baik sekali. Kok kakaknya dikasih gratis buat saya. Sudah begitu dukung seratus persen.
Jam pelajaran terakhir, pas les geografi. Gurunya membuku amat. Sudah ada buku paket di masing-masing siswa, dia baca pula lurus-lurus dari buku tersebut, tanpa menghilangkan titik koma sedikit pun. Tidak ada penjelasan tambahan. Jadi benar-benar bukuisme, alias diktator. Karena sudah ada buku paket, ya bisa baca sendiri. Kesempatan itu saya gunakan untuk tulis surat.
Kertas suratnya istimewa. Waktu itu, yang paling digandrungi siswa seminari adalah kertas surat harvest. Sudah harum mewangi dengan gambar bunga mawar, ada juga kata-kata mutiara yang romantis di sebelah bawahnya. Satu per satu saya mulai rangkaikan kata-kata. Mimik saya waktu itu mirip seorang penyair. Chairil Anwar, barangkali. Sesekali saya berpikir, apa yang seharusnya saya tuangkan. Saya mau tampil beda. Tidak seperti kebanyakan surat siswa seminari. Selalu dimulai dengan ungkapan “Nyalakan api persahabatan”. Kemudian, “Kepada Yts. Bla bla bla di Meja Belajar”. Disusul, “Maksud kedatangan surat saya ini, ingin berkenalan denganmu. Karena itu, perkenankanlah saya memperkenalkan biodota singkat saya: nama.....dst”. Terus surat akan ditutup dengan salam demi salam yang panjangnya sampai berlembar-lembar. Ada salam “kirfus: kirim foto untuk saya”, “jalus: jangan lupa saya”, dll.
Akhirnya selesai juga. Tiga lembar. Saya lipat rapi, kemudian masukkan ke dalam amplop. Selesai pelajaran, saya serahkan surat saya itu ke adik kelas saya itu. Sore harinya, adik kelas saya itu minta izin ke Romo untuk keluar asrama. Dia bilang, mau singgah Kartini dan menyerahkan surat saya tersebut. Dag dig dug lagi hati saya. Dibalas apa tidak ya!
Selang tiga hari setelah surat saya itu tiba di tangannya, saya belum dapat balasan sama sekali. Dalam masa-masa penantian itu, hati saya tidak karuan. Segala sesuatu menjadi tawar dan tidak menggairahkan. Ada juga perasaan menyesal. “Kenapa saya berani tulis surat itu ya! Kenapa saya harus tulis seperti itu dan tidak mengikuti saja kebiasaan konvensional yang sudah ada”. Kalau saya tidak tulis surat, saya mungkin tidak terjebak dengan perasaan seperti ini. Malu juga kalau tidak dibalas.
Saya tidak sabaran. Kaki saya melangkah ke kapela dan berlutut di depan tabernakel, persis di Hati Kudus Yesus. Saya berdoa dengan khusuk meminta supaya dia bisa menjadi teman baik saya, kalau bukan menjadi “pacar” saya. Hari pertama saya berdoa, tidak ada hasilnya. Hari kedua, juga tidak ada hasilnya. Saya sudah putus asa dan mungkin tidak lagi ada harapan buat saya. Tapi saya tetap berdoa semoga dia menjadi teman baik saya. Hari ketiga, sore hari pada saat jam belajar kedua, menjelang makan malam, sepucuk surat tiba di hadapan saya. From: Karmat!
Semua anggota kelas pada heboh. Saya dapat surat dari Kartini. Biasanya ketua kelas bertindak membacakan nama dan alamat si pengirim, ditujukan kepada siapa di depan kelas. Jadi semua anggota kelas akan tahu. Di meja makan, soal surat itu menjadi salah satu topik hangat yang diperbincangkan. Dan semua siswa seminari akan tahu, siapa berpasangan dengan siapa. Tidak boleh ada lagi yang nekat tulis surat pada orang yang sama. Semacam rambu-rambu tanda larangan. Surat itu diserahkan pada saya. Teman-teman pada memaksa untuk buka dan baca beramai-ramai. Tapi saya tidak mau surat saya itu jadi konsumsi umum. Saya simpan dan nanti akan saya baca sendiri.
Lonceng makan berbunyi. Hati saya tidak tenang. Belum ada waktu yang pas untuk baca surat itu. Makan menjadi lebih bersemangat. Saya coba tenangkan diri. Merasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi dalam hati, ada kegembiraan luar biasa. Anak kalbu saya sepertinya meloncat-loncat. Menari-nari. Sebuah kegembiraan luar biasa. Kegembiraan seorang laki-laki normal. Kegembiraan seorang pejantan, calon bujang lapuk. Selesai makan, saya langsung ke kapel. Saya duduk pada bangku di bagian tengah. Kemudian keluarkan surat itu dari saku celana dan mulai membacanya. Doa saya terkabul. “Dia jadi sahabat saya”.
Saya semakin mencintai Tuhan. Dia selalu memberikan saya kegembiraan dan mukjizat-Nya. Cinta-Nya tidak pernah habis-habisnya buat saya.
***
Saya melangkah masuk ke dalam kapela. Kebetulan memang tidak di kunci. Berbagai perasaan mengalir di sekujur tubuh. Bahagia, haru, bangga, damai, pasrah, semua bercampur aduk. Sejak saya meninggalkan kapela ini lima tahun yang lalu, sama sekali dandanannya tidak berubah. Bau khasnya pun masih seperti dulu. Letak organ dan tabernakel dengan lampu kelap kelip juga tidak berubah. Semua masih di tempat yang sama. Sekelebat semua pengalaman haru biru mengalir dalam benak saya. Kapela ini sudah menyimpan banyak peristiwa hidup saya di sini. Dia menjadi sumber inspirasi saya sepanjang ziarah hidup saya hingga kini.
Saat itu, saya berjanji, segala yang sudah saya timba dari kekayaan anugerah Tuhan di kapela ini, kelak akan saya bagi-bagikan juga buat adik-adik saya. Mereka mesti mencintai kapela ini, sama seperti saya mencintainya.(*)

Permenunganku:“Anda benar-benar akan memiliki sebuah tempat di hati anda, bila anda berhasil menemukan makna kehidupan ini di tempat itu. Dengan cara apapun, anda akan selalu berusaha kembali ke tempat itu. Sebab tempat itu selalu menjadi memori yang melantasi jiwa anda. Dia selalu melumuri semangat anda dan membuat hidup anda menjadi lebih bergairah. Jika anda tidak mampu kembali ke tempat itu, bernostalgialah dengan teman-teman yang juga mengetahui persis tempat itu. Dengan itu anda membangun keakraban dan persaudaraan, buah lain yang diberikan oleh anugerah karena anda mencintai tempat itu. Kalau pun itu tidak juga bisa, berdoalah dalam hatimu dan ciptakanlah tempat itu bersama saudaramu, keluargamu, teman-temanmu, lingkunganmu, karena tempat itu menghendaki anda melakukannya demikian. Dengan begitu, anda tidak akan pernah lagi merasa kehilangan. Dia selalu ada bersamamu!”



[1] Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko adalah panti pendidikan khusus untuk sekolah calon imam. Selain sudah banyak alumni yang ditahbiskan, baik sebagai imam maupun uskup, sekolah ini juga menjadi pencetak terbanyak awam yang unggul. Dari rahimnya sudah banyak yang dilahirkan menjadi tokoh-tokoh terkemuka. Baik di pentas nasional, internasional, maupun daerah. Sebut saja, nama-nama seperti Daniel Dhakidae, Frans Meak Parera, Primus Dorimulu, Yos Daniel Parera, Ansel da Lopes, Servas Sadipun, Aloy Lele Maja, Abraham Runga, Donatus Djagom, Ishak Doera, Kerubim Parera, Eduardus Sangsung adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di almamater Mataloko ini.
[2] Maumere adalah ibu kota kabupaten Sikka, Flores Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya rumah saya di Waigete, 23 kilometer lagi dari Maumere, ke arah Larantuka. Ini sebuah gaya pars pro toto, tanpa mengurangi kekampungan saya di Waigete.
[3] Tahun Orientasi Pastoral merupakan kesempatan praktik bagi calon imam setelah menyelesaikan gelar kesarjanaannya. Kesempatan ini merupakan ajang refleksi, pendewasaan panggilan, juga merupakan cara “turun gunung”, mengenal secara dekat kondisi pastoral umat.
[4] Pendidikan calon imam dimulai sekurang-kurangnya dari pendidikan menengah atas. Siswa yang tertarik menjadi imam, dibimbing secara khusus di panti pendidikan calon imam. Dari pendidikan menengah atas, calon-calon imam melangkah ke sebuah pendidikan tinggi jurusan filsafat dan teologi.
[5] Pemimpin sebuah komunitas atau biara. Ada juga yang menyebutnya Rektor, Magister, dan untuk komunitas susteran biasanya dikepalai oleh seorang Muder.
[6] Komunitas Seminari Mataloko terbagi dalam tiga unit kecil. Unit A, untuk siswa dan para pembina sekolah menengah atas, Unit B, untuk siswa dan para pembina sekolah menengah pertama, dan unit C untuk komunitas para pastor dan suster.
[7] Doa wajib gereja. Biasanya menjadi doa wajib kalangan biawaran-biarawati. Doa Brevir terbagi atas lima waktu: Ibadat bacaan (Pukul 3.00), Ibadat Pagi (Pukul 6.00), Ibadat Siang (Pukul 12.00), Ibadat Sore (Pukul 18.00), dan Ibadat Penutup (Pukul 20.00). Ada komunitas yang secara ketat mengikuti aturan doa lima waktu ini. Ada yang hanya pagi, siang, sore, dan malam.
[8] SEMAT akronim dari Seminari Mataloko dan KARMAT akronim dari Kartini Mataloko. Kedua sekolah ini berdampingan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sekitar 200 m. Yang satu, semua siswanya pria dan yang lainnya, perempuan.
[9] Maksudnya orang kaya, dari keluarga berada
[10] Re’e, bahasa daerah setempat, yang artinya jelek, buruk rupa